juragan valas

Pengalaman Pribadi

pengalaman pribadi tentang hal kepercayaan Rp 00.00
Beberapa tahun silam sesudah mengadakan diskusi dengan para usahawan di Amerika Serikat, saya berbincang dengan salah seorang dari mereka. 

Ia menghampiri saya dan memperkenalkan dirinya dengan berkata "Saya benar-benar menyukai ceramah Anda. Dapatkah Anda meluangkan waktu sebentar?"

"Saya mempunyai sebuah pengalaman pribadi yang berkaitan dengan apa yang Anda katakan tadi mengenai membuat pikiran bekerja untuk kita dan bukannya membiarkannya bekerja melawan kita."

Ia melanjutkan, "Saya belum pernah menceritakan kepada siapa pun dan saya ingin sekali menceritakannya kepada Anda". "Silakan," saya menimpali dengan senyuman. "Saya ingin sekali mendengarnya".

"Begini, empat tahun yang lalu saya bekerja keras, dalam pekerjaan yang biasa-biasa saja. Memang saya hidup lumayan menurut standar rata-rata, tetapi masih di bawah dari ideal. Kami memiliki rumah yang terlalu kecil, dan tidak ada uang untuk membeli banyak barang yang kami inginkan.

Syukurlah istri saya tidak banyak mengeluh, tetapi nampak menerima saja nasibnya dengan perasaan tidak puas. Melihat kejadian ini saya semakin tidak senang. Ketika melihat bagaimana diri ini telah mengecewakan istri dan dua anak saya, akhirnya ku putuskan untuk mengubah semuanya".

rumah mewah minimalis
Gambar 1. Rumah Baru

"Sekarang kami mempunyai rumah baru cukup bagus di atas tanah yang luas. Kami juga memiliki apartemen kira-kira dua ratus kilometer di sebelah utara. Tidak khawatir lagi apakah kami dapat menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi".

"Dan istri saya tidak lagi harus merasa bersalah setiap kali ia membelanjakan uang untuk membeli beberapa pakaian baru. Musim panas tahun depan kami sekeluarga berencana ke Eropa menghabiskan liburan selama sebulan disana". "Bagaimana ini semua bisa terjadi?" tanya saya.

orang-orang pencari kerja
Gambar 2. Lowongan Pekerjaan

Ia meneruskan : "Semuanya terjadi ketika saya memanfaatkan kekuatan kepercayaan'. Empat tahun sebelumnya saya mengetahui adanya lowongan di sebuah perusahaan ternama. Saya memutuskan untuk mencoba sambil berharap dapat menghasilkan uang sedikit lebih banyak di sana".

"Karena tempatnya jauh, saya memutuskan berangkat dan menginap dekat perusahaan. Akhirnya sampai pada hari Minggu malam. Wawancaranya sendiri baru dilakukan pada hari Senin. Sesudah makan malam saya duduk di kamar hotel dan entah karena apa mulai termenung. 'Mengapa,' saya bertanya, 'saya hanya menjadi orang gagal kelas menengah? Mengapa saya berusaha mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan langkah maju yang begitu kecil?"

menuliskan secercah ide
Gambar 3. Menulis

"Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mendorong untuk merenung seperti itu. Tetapi saya mengambil selembar kertas dan menuliskan nama lima orang yang saya kenal baik selama beberapa tahun sudah jauh melampaui saya dalam penghasilan dan kemajuan bisnis. Dua adalah bekas tetangga yang sudah naik jabatan lebih tinggi. Dua lagi adalah bekas bos saya, dan yang ketiga adalah kakak ipar saya".

"Kemudian, saya bertanya dalam hati apa yang mereka punyai dan yang tidak saya miliki, selain pekerjaan yang lebih baik? Saya membandingkan kecerdasan mereka dengan kecerdasan saya, tetapi secara jujur saya tidak dapat melihat bahwa mereka lebih hebat atau lebih cerdas. Saya juga tidak dapat mengatakan mereka berpendidikan lebih baik daripada saya, atau mempunyai kebiasaan pribadi yang lebih unggul".

membuat inisiatif baru
Gambar 4. Ide dan Gagasan

"Akhirnya saya mendapatkan kesimpulan yaitu inisiatif. Di sini saya harus mengakui bahwa rekor saya jauh di bawah teman-teman saya yang berhasil. Untuk pertama kalinya kulihat kelemahan saya. Menemukan bahwa saya memang suka menahan diri. Saya menggali semakin dalam dengan lebih dalam lagi, dan menemukan alasan mengapa saya kurang memiliki inisiatif karena tidak percaya bahwa diri saya sangat berharga".

"Saya duduk di sana sepanjang malam, mencari tahu bagaimana kurangnya kepercayaan akan diri sendiri telah mendominasi kehidupan. Yang selama ini saya menggunakan pikiran bekerja melawan diri saya sendiri. Saya mendapatkan diri mencibir, mencomooh, dan mengejek diri sendiri mengapa saya tidak dapat maju bukannya mengapa saya dapat maju".

Saya melihat banyak hal menurunkan nilai diri sendiri ini tampak dalam semua yang saya kerjakan. Kemudian kesadaran saya timbul bahwa tak seorang pun akan percaya kepada saya sebelum saya percaya kepada diri saya sendiri. "Sejak saat itu saya memutuskan, 'Saya tidak mau lagi merasa sebagai orang kelas dua. Sejak sekarang dan seterusnya saya tidak akan meremehkan diri saya sendiri".

menjadi orang penting
Gambar 5. Maju dan Berharga

"Kepercayaan itu masih tertanam kuat hingga esok hari. Selama wawancara, saya mencoba untuk pertama kalinya menggunakan kepercayaan yang baru saya dapatkan semalam. Sebelum wawancara saya berharap memiliki keberanian untuk meminta $10.000, atau mungkin bahkan $17.500 lebih banyak daripada yang saya peroleh dari pekerjaan saya sekarang. Akan tetapi, sesudah saya menyadari bahwa saya adalah orang yang berharga, saya menaikkannya menjadi $90.000".

Secara mengejutkan pihak perusahaan menyetujui. Saya menjual kualitas karena sesudah satu malam yang panjang menemukan hal-hal di dalam diri membuat saya jauh lebih mungkin laku.

dampak krisis
Gambar 6. Dampak Ekonomi

 "Dalam dua tahun sesudah saya melakukan pekerjaan itu, saya membuat reputasi sebagai orang yang cakap dan mampu berbisnis. Sayangnya ekonomi global membuat perusahaan mengalami kemerosotan besar dalam bisnis. Ini malah membuat saya lebih berharga karena saya adalah salah seorang yang terbaik dalam mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan diorganisir ulang, dan saya diberi saham dalam jumlah sangat besar ditambah kenaikan gaji berlipat."

Jelaslah, dengan percaya kepada diri trader sendiri maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi. Keuntungan, profit, ataupun meningkatnya hasil portofolio trading tercermin dari seberapa besar trader memiliki kepercayaan diri.

Share this on Google+
Sangat Berharga | Pabrik Pikiran
Tambahkan

0 komentar:

Post a Comment