juragan valas

Mencontek

Rp 00.00
Beberapa tahun yang lalu, sewaktu memeriksa hasil ujian para mahasiswa, saya menemukan satu hal yang sangat mengganggu. 

Mahasiswa tersebut sebut saja namanya Paul memperlihatkan dalam diskusi di kelas dan tes sebelumnya bahwa ia jauh lebih cakap dibandingkan yang ia perlihatkan di atas kertas ujiannya. 

Ia sebenarnya adalah orang yang saya kira akan lulus dengan nilai tertinggi. Ternyata hasil ujiannya menempatkan dirinya di tempat terbawah. Sebagaimana kebiasaan saya dalam kasus seperti ini, saya meminta sekretaris untuk menghubungi mahasiswa tersebut dan memintanya datang ke kantor saya karena ada urusan yang mendesak.

Tidak lama kemudian Paul pun muncul. Ia tampak seolah baru saja mengalami pengalaman yang mengerikan. Sesudah ia duduk, saya berkata kepadanya, "Ada apa, Paul? Hasil ujian kamu tidak seperti yang saya harapkan." Paul mengalami perjuangan batin, menunduk, dan menjawab: "Pak, sesudah saya mengira Bapak mengetahui saya menyontek, saya benar-benar kalut. Saya sama sekali tidak dapat berkonsentrasi.

Terus terang ini pertama kali saya menyontek di universitas. Saya ingin sekali berhasil, maka saya ..." "Tunggu sebentar," saya menyela, tetapi ia tidak mau berhenti berbicara. "Saya kira Bapak sudah mengusulkan agar saya dikeluarkan." 

mencontek
Gambar 1. Mencontek

Sampai di sini Paul mulai mengemukakan rasa malu yang akan ditimbulkan oleh kejadian ini pada keluarganya, bagaimana kejadian ini menghancurkan hidupnya, dan semua akibatnya yang lain. 

Akhirnya, saya berkata: "Tenang, Paul. Saya akan menjelaskan sesuatu. Saya tidak pernah melihatmu menyontek. Waktu engkau masuk dan mengatakannya kepada saya, tidak terpikir sedikitpun bahwa itulah persoalannya. Sayang sekali, Paul, engkau berbuat begitu." 

Kemudian saya melanjutkan: "Paul, katakan kepada saya apa yang ingin engkau peroleh dari pengalamanmu di universitas?" Ia sedikit lebih tenang sekarang, dan sesudah diam sejenak, ia berkata, "Pak, saya kira tujuan saya adalah belajar bagaimana menjalani hidup, tetapi saya kira saya gagal."

"Kita belajar dengan cara-cara yang berlainan," saya berkata. "Saya rasa engkau dapat belajar tentang keberhasilan yang sebenarnya dari pengalaman ini. Waktu engkau menyontek tadi, suara hatimu sangat mengganggumu. Ini membuatmu mengalami kompleks rasa bersalah yang pada gilirannya merusak kepercayaan dirimu. Sebagaimana engkau katakan tadi, engkau menjadi kalut.

Ketahuan nyontek
Gambar 2. Kalut Ketahuan Mencontek

"Biasanya, Paul, persoalan benar salah ini didekati dari sudut pandang moral atau keagamaan. Saya tidak akan mengkhotbahi engkau sekarang, tentang benar atau salah. Tapi mari kita lihat sisi praktisnya. 

Ketika engkau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan suara hatimu, engkau merasa bersalah dan perasaan bersalah ini menghambat proses berpikir di dalam benakmu. 

Engkau tidak dapat berpikir jernih karena pikiranmu terus bertanya, 'Apakah saya akan ketahuan? Apakah saya akan ketahuan?' "Paul," saya melanjutkan, "engkau begitu ingin mendapatkan gelar tersebut sehingga engkau melakukan sesuatu yang engkau tahu salah. Ada banyak kesempatan dalam hidup ini ketika kamu akan sangat menginginkan sesuatu seperti gelar universitas, dan engkau akan tergoda melakukan sesuatu yang bertentangan dengan suara hatimu." 

lulus
Gambar 3. Ingin Lulus

"Engkau mungkin saja berhasil. Akan tetapi, inilah yang akan terjadi. Perasaan bersalah akan menguasaimu dan hasilnya engkau akan terlalu sadar diri dan gelisah. Dan dalam jangka panjang Anda akan kehilangan apa yang Anda dapatkan secara curang."

Saya melanjutkan dengan menunjukkan bagaimana seorang usahawan atau profesional kehilangan pegangan karena ketakutan hebat bahwa istrinya akan mengetahui tentang hubungan cinta gelapnya dengan seorang wanita lain. "Apakah ia akan mengetahuinya?" Pertanyaan ini merusak kepercayaan dirinya hingga ia tidak dapat bekerja dengan baik di tempat kerja atau di rumah.

Saya mengingatkan Paul bahwa banyak penjahat tertangkap bukan karena ada petunjuk yang mengarah pada mereka, melainkan karena tindakan mereka diwarnai perasaan bersalah dan sadar diri yang berlebihan. 

Perasaan bersalah mereka menempatkan diri mereka dalam daftar tersangka. Di dalam diri kita masing-masing ada keinginan untuk benar, untuk berpikir benar, dan bertindak benar. Jika kita menentang keinginan ini, kita memasukkan penyakit kanker ke dalam hati nurani kita. 

Kanker ini berkembang dan berkembang dengan memakan habis hati nurani kita. Hindari melakukan apa saja yang akan menyebabkan Anda bertanya diri. 'Apakah saya akan tertangkap? Apakah saya akan tertangkap? Apakah saya dapat lolos?'

"Jangan mencoba mendapatkan gelar Anda jika itu berarti melanggar kepercayaan diri Anda." Saya senang karena Paul mengerti maksud saya. Ia mendapatkan pelajaran praktis untuk mengerjakan apa yang benar. Lalu saya memintanya duduk dan mengikuti ujian ulangan. 

Dalam menjawab pertanyaannya, "Tapi bagaimana dengan pemecatan saya?" saya berkata, "Saya tahu apa peraturannya bagi orang yang menyontek. Tetapi engkau tahu, jika kami mengeluarkan semua mahasiswa yang memang menyontek, setengah dari dosen di sini harus ikut keluar. Dan jika kami mengeluarkan semua mahasiswa yang berpikir untuk menyontek, universitas ini harus ditutup. Jadi, saya melupakan seluruh kejadian ini jika engkau mau menolong saya." 

"Dengan senang hati," ujar Paul.

Saya berjalan menghampiri rak buku dan mengambil buku pribadi saya berjudul Fifty Years with the Golden Rule, dan berkata, "Paul, baca buku ini dan kembalikan. Lihat kisah J.C. Penney, hanya dengan mengerjakan apa yang benar menjadikannya salah seorang Amerika terkaya." Mengerjakan apa yang benar membuat hati nuranimu puas. Dan ini membangun kepercayaan diri.

Share this on Google+
Pengertian | Percaya Diri
Tambahkan

0 komentar:

Post a Comment