juragan valas

Pengertian

Rp 00.00
Emosi yang meluap-luap cenderung berbahaya. Namun yang lebih berbahaya bila orang yang mendapat pelampiasan emosi dari seorang lawan bicara tidak menerima. 

Cara paling potensial untuk mengendalikan emosi adalah dengan bersabar dan membiarkan orang marah.

Emosi dapat memuncak ketika loss demi loss kembali terjadi. Untuk itu, Anda perlu membaca artikel berikut untuk menjaga emosi tetap terkendali. Jangan biarkan emosi mengambil alih tubuh Anda.

Kami sarankan untuk selalu mengembangkan sikap penuh pengertian. Memang tidak sedikit orang yang seolah mau menerkam Anda, menggertak Anda, menjadikan Anda sasaran dan menakut-nakuti Jika Anda tidak siap menghadapi orang-orang seperti ini, mereka dapat merusak kepercayaan diri dan membuat Anda takluk sepenuhnya. Anda memerlukan pertahanan untuk menghadapi orang-orang seperti ini.

Beberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, kami melihat suatu demonstrasi yang bagus sekali mengenai cara tepat untuk menghadapi orang seperti ini. Saat itu pukul 17.00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. 

marah
Gambar 1. Marah-Marah


Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tersebut berkata, "Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar single untuk Anda." "Single," bentak orang itu. "Saya memesan double." Pegawai tersebut berkata dengan sopan, "Coba saya periksa sebentar." 

Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, "Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh." Tamu yang berang itu berkata, "Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double." Kemudian ia mulai bersikap "anda tahu siapa saya," diikuti dengan "Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat.

Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, "Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda." Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata, "Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang karena manajemennya benar-benar buruk," dan ia pun keluar. 

Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut saya dengan salam yang ramah sekali "Selamat malam, Tuan." Ketika ia mengerjakan rutin yang biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, "Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar-benar sabar."

tenang
Gambar 2. Sabar Hadapi Orang yang Marah

"Ya, Tuan," katanya, "Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya."

Pegawai tadi menambahkan, "Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu." Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, "Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu." 

Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah dengan membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja.

Share this on Google+
Seimbang | Mencontek
Tambahkan

0 komentar:

Post a Comment