juragan valas

Pidato

beretorika Rp 00.00
Hampir semua orang berkeinginan mempunyai "kemampuan" untuk tampil sebagai pembicara kelas satu di muka umum. Bisa berbicara memukau dan disukai oleh khalayak ramai. 

Namun hanya sedikit orang yang bisa berhasil mewujudkan keinginan mereka, dan kebanyakan orang tetap menjadi pembicara yang biasa saja.

Mengapa? Alasannya sederhana. Kebanyakan orang berkonsentrasi pada hal-hal kecil yang sepele dalam berbicara dengan mengorbankan persoalan besar yang penting.

Dalam menyiapkan diri untuk berpidato, kebanyakan orang melengkapi diri dengan sekumpulan instruksi mental seperti "Saya harus ingat untuk berdiri tegak," "Jangan berjalan berkeliling dan jangan gunakan tangan Anda," "Jangan biarkan hadirin melihat Anda menggunakan catatan Anda," "Ingat, jangan membuat kesalahan gramatika," "Pastikan dasi Anda lurus," "Berbicaralah dengan jelas, tetapi jangan terlalu keras," dan seterusnya. 

ceramah
Gambar 1. Latihan Pidato

Nah, apa yang terjadi ketika pembicara tersebut bangkit untuk berbicara? Ia takut karena ia telah memberi dirinya daftar panjang hal-hal yang tidak boleh ia lakukan. Ia menjadi bingung dalam menyampaikan pidatonya dan mendapatkan dirinya bertanya-tanya dalam hati "Apakah saya berbuat kesalahan?"

Pendeknya, ia gagal. Ia gagal karena ia berkonsentrasi pada kualitas yang kecil, sepele, dan relatif tidak penting dari seorang pembicara yang baik, dan gagal berkonsentrasi pada hal-hal besar yang menjadikan seseorang pembicara yang baik: pengetahuan tentang apa yang akan ia bicarakan dan keinginan kuat untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Ujian yang sesungguhnya atas seorang pembicara bukanlah apakah ia berdiri tegak atau apakah ia membuat banyak kesalahan gramatika, melainkan apakah hadirin mengerti apa yang ia ingin sampaikan? 

memukau
Gambar 2. Pidato Berbobot

Kebanyakan dari pembicara terkemuka mempunyai cacat kecil; beberapa dari mereka bahkan mempunyai suara yang tidak enak didengar. Namun, mereka memiliki kualitas yang benar-benar penting. Mereka mempunyai sesuatu untuk dikatakan dan mereka merasakan hasrat yang menyala agar orang lain mendengarnya.

Share this on Google+
Kisah Manajer | Pertengkaran
Tambahkan

0 komentar:

Post a Comment